Pendapatan Naik 3,5 Persen, Harga Mobil Melonjak hingga 7 Persen
kabeanegroi.com – Kenaikan harga mobil yang lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan masyarakat mulai mengubah perilaku konsumen di pasar otomotif Indonesia.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan pendapatan kelas menengah di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir hanya tumbuh sekitar 3,5 persen per tahun. Sebaliknya, harga mobil baru naik lebih cepat, yakni sekitar 5 hingga 7 persen setiap tahun.
Perbedaan pertumbuhan tersebut membuat daya beli masyarakat sulit mengejar kenaikan harga mobil baru. Karena itu, banyak konsumen menurunkan pilihan kendaraan ke segmen harga yang lebih terjangkau. Pelaku industri menyebut kondisi ini sebagai fenomena “down trading”.
Josua menjelaskan sebagian besar konsumen kini memilih mobil dengan harga sekitar Rp300 jutaan. Segmen harga tersebut bahkan menguasai sekitar 70 hingga 80 persen pasar otomotif.
“Pendapatan kelas menengah naik sekitar 3,5 persen per tahun, sementara harga mobil naik 5 sampai 7 persen. Karena itu sekitar 70 sampai 80 persen pasar otomotif berada di segmen harga Rp300 jutaan,” kata Josua dalam sebuah kegiatan otomotif di Jakarta, Jumat (6/3).
Selain itu, konsumen kini semakin rasional saat membeli kendaraan. Mereka lebih fokus pada kemampuan finansial, besaran cicilan, efisiensi bahan bakar, serta biaya perawatan kendaraan.
Perubahan perilaku tersebut juga terlihat dari meningkatnya pembiayaan mobil bekas oleh perusahaan leasing. Banyak konsumen yang sebelumnya membeli mobil baru kini memilih mobil bekas karena harganya lebih terjangkau.
Meski begitu, Josua menilai pasar otomotif Indonesia masih memiliki potensi besar. Tingkat kepemilikan mobil di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan beberapa negara di kawasan. (mda*)

Comments are closed.